Jumat, 01 April 2011
Gunung adalah suatu daerah daratan yang mempunyai perbedaan tinggi yang menyolok dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaan, dan penggunaan sering tergantung dari adat lokal. Misalnya, Ensiklopedia Britannica mendefinisikan gunung apabila memiliki puncak lebih 2000 kaki atau 610 m.
Proses Terjadinya Gunung
Gunung terjadi karena adanya proses gaya tektonik yang bekerja dalam bumi yang disebut dengan orogenesis dan epeirogenesis. Dalam proses orogenesis ini sedimen yang terkumpul menjadi berubah bentuk karena mendapat gaya tekan dari tumbukan lempeng tektonik. Ada tiga tipe tumbukan lempeng tektonik, antara lempeng busur kepulauan dan benua, lautan dan benua, dan antara benua dengan benua. Tumbukan lempeng lautan dan benua menimbulkan deposit sedimen laut terhadap tepi lempeng benua. Tumbukan antara lempeng busur kepulauan dengan benua berakibat lempeng lautan menyusup ke lapisan asthenosfir dan batuan vulkanik dan sedimen menumpuk pada sisi benua sehingga terjadilah pegunungan Sierra Nevada di California pada zaman Mesozoic. Sedangkan tumbukan lempeng benua dengan benua merupakan proses pembentukan sistem pegunungan Himalaya dan Ural
Sedangkan dalam proses epeirogenesis merupakan gerakan yang membentuk benua yang bekerja sepanjang jari-jari bumi. Proses ini juga disebut gerakan radial karena gerakan mengarah atau menjauhi titik pusat bumi dan terjadi pada daerah yang sangat luas sehingga prosesnya lebih lambat dibandingkan dengan proses orogenesis. Pembentukan dataran rendah (graben) dan dataran tinggi (horts) adalah salah satu contoh proses epeirogenesis.
Proses pembentukan gunung berlangsung menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 – 450 juta tahun yang lalu. Misalnya pegunungan Himalaya terbentuk mulai dari 45 juta tahun yang lalu, sedangkan pegunungan Appalache terbentuk mulai dari 450 jutan tahun yang lalu.
Model terjadinya gunung mengalami tiga tingkatan proses, yaitu:
1.Akumulasi sedimen: lapisan lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk sampai kedalaman beberapa kilometer.
2.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi:sedimen yang terbentuk tadi mengalami deformasi karena adanya gaya kompresi akibat tumbukan antar lempeng-lempeng tektonik.
3.Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar: tumbukan antar lempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung. Sedangkan jika terjadi gaya tegangan atau tarikan antar lempeng maka akan terbentuk graben (lembah)
Skema Proses Terjadinya Pegunungan Himalaya
Sebelum terbentuk pegunungan Himalaya , terjadi gerakan lempeng India ke arah lempeng Eurasia. Lempeng India merupakan komposisi batuan yang sangat tua 2-2,5 milyar tahun. Titik referensi yang berwarna kotak kuning masih berada dibawah . Setelah mengalami proses tumbukan yang lama antara dua lempeng tersebut maka sebagian dari tepi lempeng India terangkat dimana terlihat kotak kuning berubah posisi ke tempat yang lebih tinggi.Sehingga terbentuklah pegunungan Himalaya saat ini.
Skema Pembentukan Dataran Rendah (Graben)
(Sumber: http://csmres.jmu.edu/geollab/vageol/vahist/mtnmodel.html)
Kulit bumi yang sebelumnya dalam kondisi seimbang, mendapat gaya tektonik yang saling berlawanan arah (gaya regangan) akibat desakan panas ke atas, sehingga menimbulkan retakan (cracking). Proses tektonik ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu geologi yang cukup lama. Blok yang retak menjadi turun akibat gaya tarik gaya berat sehingga terbentuk
Rangkaian Gunung-Gunung di Muka Bumi
Sistem rangkaian jalur pegunungan di bumi meliputi Pegunungan Cordillera, Amerika Utara, Pegunungan Andes, Alpin, Ural, Appalache, Himalaya, Caledonia dan Tasmania. Gambar di bawah ini menunjukkan Peta Rangkaian Gunung-Gunung di Bumi.
Sumber: United States Geological Survey)
Ahli Geologi mengklasifikasikan gunung menurut ketinggiannya yaitu gunung tinggi, menengah dan rendah. Warna merah pada peta menunjukkan gunung-gunung tinggi seperti pegunungan Himalaya, Andes , warna jingga menunjukkan gunung dengan tinggi menengah seperti pegunungan Ahaggar di Algeria sedangkan warna kuning menunjukkan gunung dengan ketinggian rendah seperti pegunungan Meratus di Kalimantan , Indonesia.
Proses Terjadinya Gunung
Gunung terjadi karena adanya proses gaya tektonik yang bekerja dalam bumi yang disebut dengan orogenesis dan epeirogenesis. Dalam proses orogenesis ini sedimen yang terkumpul menjadi berubah bentuk karena mendapat gaya tekan dari tumbukan lempeng tektonik. Ada tiga tipe tumbukan lempeng tektonik, antara lempeng busur kepulauan dan benua, lautan dan benua, dan antara benua dengan benua. Tumbukan lempeng lautan dan benua menimbulkan deposit sedimen laut terhadap tepi lempeng benua. Tumbukan antara lempeng busur kepulauan dengan benua berakibat lempeng lautan menyusup ke lapisan asthenosfir dan batuan vulkanik dan sedimen menumpuk pada sisi benua sehingga terjadilah pegunungan Sierra Nevada di California pada zaman Mesozoic. Sedangkan tumbukan lempeng benua dengan benua merupakan proses pembentukan sistem pegunungan Himalaya dan Ural
Sedangkan dalam proses epeirogenesis merupakan gerakan yang membentuk benua yang bekerja sepanjang jari-jari bumi. Proses ini juga disebut gerakan radial karena gerakan mengarah atau menjauhi titik pusat bumi dan terjadi pada daerah yang sangat luas sehingga prosesnya lebih lambat dibandingkan dengan proses orogenesis. Pembentukan dataran rendah (graben) dan dataran tinggi (horts) adalah salah satu contoh proses epeirogenesis.
Proses pembentukan gunung berlangsung menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 – 450 juta tahun yang lalu. Misalnya pegunungan Himalaya terbentuk mulai dari 45 juta tahun yang lalu, sedangkan pegunungan Appalache terbentuk mulai dari 450 jutan tahun yang lalu.
Model terjadinya gunung mengalami tiga tingkatan proses, yaitu:
1.Akumulasi sedimen: lapisan lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk sampai kedalaman beberapa kilometer.
2.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi:sedimen yang terbentuk tadi mengalami deformasi karena adanya gaya kompresi akibat tumbukan antar lempeng-lempeng tektonik.
3.Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar: tumbukan antar lempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung. Sedangkan jika terjadi gaya tegangan atau tarikan antar lempeng maka akan terbentuk graben (lembah)
Skema Proses Terjadinya Pegunungan Himalaya
Sebelum terbentuk pegunungan Himalaya , terjadi gerakan lempeng India ke arah lempeng Eurasia. Lempeng India merupakan komposisi batuan yang sangat tua 2-2,5 milyar tahun. Titik referensi yang berwarna kotak kuning masih berada dibawah . Setelah mengalami proses tumbukan yang lama antara dua lempeng tersebut maka sebagian dari tepi lempeng India terangkat dimana terlihat kotak kuning berubah posisi ke tempat yang lebih tinggi.Sehingga terbentuklah pegunungan Himalaya saat ini.
Skema Pembentukan Dataran Rendah (Graben)
(Sumber: http://csmres.jmu.edu/geollab/vageol/vahist/mtnmodel.html)
Kulit bumi yang sebelumnya dalam kondisi seimbang, mendapat gaya tektonik yang saling berlawanan arah (gaya regangan) akibat desakan panas ke atas, sehingga menimbulkan retakan (cracking). Proses tektonik ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu geologi yang cukup lama. Blok yang retak menjadi turun akibat gaya tarik gaya berat sehingga terbentuk
Rangkaian Gunung-Gunung di Muka Bumi
Sistem rangkaian jalur pegunungan di bumi meliputi Pegunungan Cordillera, Amerika Utara, Pegunungan Andes, Alpin, Ural, Appalache, Himalaya, Caledonia dan Tasmania. Gambar di bawah ini menunjukkan Peta Rangkaian Gunung-Gunung di Bumi.
Sumber: United States Geological Survey)
Ahli Geologi mengklasifikasikan gunung menurut ketinggiannya yaitu gunung tinggi, menengah dan rendah. Warna merah pada peta menunjukkan gunung-gunung tinggi seperti pegunungan Himalaya, Andes , warna jingga menunjukkan gunung dengan tinggi menengah seperti pegunungan Ahaggar di Algeria sedangkan warna kuning menunjukkan gunung dengan ketinggian rendah seperti pegunungan Meratus di Kalimantan , Indonesia.
MAHASISWA SEBAGAI KONTROL SOSIAL DAN DEMOKRASI
MAHASISWA SEBAGAI KONTROL SOSIAL DAN DEMOKRASI
Oleh : zikirullah
(aktivis Pergerakan SMUR dan mantan pengurus BEM FKIP.)
Sejarah pergerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial politik suatu bangsa. Seperti halnya Indonesia. Di mana dalam setiap perioderisasinya, mahasiswa dengan moral force-nya telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam menentukan format kehidupan bangsa. Diawali dengan lahirnya Boedi Oetomo 1908 yang dilanjutkan dengan kongres mahasiswa Indonesia sehingga menghasilkan rumusan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 merupakan elemen penting dalam menentukan format bangsa ke depan.
Namun juga tidak dipungkiri dalam perjalanannya, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah cenderung memberikan batasan-batasan ruang lingkup gerakan mahasiswa. Seperti halnya Orde Lama yang jatuh sebagai implikasi jatuhnya rezim otoretarian Soekarno oleh mahasiswa dan ABRI, ternyata justru menjadi awal kemandekan pergerakan mahasiswa Indonesia.
Dengan dikeluarkannya kebijakan NKK/BKK yang melarang mahasiswa berpolitik kecuali sebagai individu dan memasuki organisasi-organisasi politik, secara langsung ataupun tidak telah melumpuhkan/mengkerdilkan peran mahasiswa sebagai elemen pembaharu dalam kehidupan bangsa. Mahasiswa dalam hal ini seakan telah kehilangan orientasi kemahasiswaannya yang notebene sebagai agen pengontrol terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini justru menjadi kekuatan rezim untuk menjalankan politik dan kekuatan kesewenangannya. Sehingga Orde Baru berhasil membentuk paradigma dan pola pikir mahasiswa menjadi “Robot-Robot Penghapal” demi mengejar study oriented dan lulus dengan predikat Cumlaude. Mereka tidak lagi peduli dengan kondisi sosial politik yang ada di sekitarnya melainkan hanya disibukkan dengan urusan kuliah, pesta, dan cinta.
Namun disisi lain ternyata masih terdapat mahasiswa yang masih memiliki kepekaan dan kepedulian sosial kemahasiswaannya terhadap kondisi sosial dan politik yang ada disekitarnya. Dengan semangat keidealisan kemahasiswaannya berusaha untuk mewujudkan kembali peran mereka sebagai agent of change dan agen social control dengan membentuk kelompok-kelompok studi mahasiswa serta bergabung dengan organisasi-organisasi mahasiswa ekstra kampus, yang secara periodik membangkitkan kembali kepekaan sosial kemahasiswaan terhadap perpolitikan bangsa. Runtuhnya rezim Soeharto ternyata bukanlah merupakan akhir perjuangan, tetapi justru merupakan awal perjuangan yang lebih besar. Reformasi menjadi ikon perjuangan seyogyanya harus diawasi dan dikontrol oleh mahasiswa.
Dengan realita demikian, tidak urung pergerakan mahasiswa pasca reformasi 98 cenderung bersifat infirodi. Di Kalimantan Barat juga masih sangat membutuhkan peran mahasiswa untuk mengawal demokrasinya. Merupakan suatu upaya untuk menata kembali format mahasiswa dalam mengawal demokrasi di Kalimantan Barat. Di era otonomi sekarang bagaimana daerah memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam menengarai pembangunan terkadang menyebabkan peran dari pemerintah menjadi kebablasan. Idealnya, demokrasi mampu beriringan memberikan kesejahteraan masyarakat. Dalam tataran normatif memang telah didengungkan. Mulai dari demokrasi liberal, demokrasi terpimpin hingga demokrasi Pancasila sekarang.
Ada dua hal yang mesti dimiliki oleh mahasiswa agar dapat melakoni perjuangan kemanusiaan dalam pengawalan demokrasi. Pertama, adalah memiliki kemampuan teoritis. Artinya adalah mahasiswa harus berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis. Hal ini wajib dimiliki agar mahasiswa mampu memformulasikan apa yang ia ketahui. Sehingga dalam menghadapi persoalan kemasyarakatan penuh dengan kesadaran. Dan segala hal yang dilakukan merupakan hasil kajian secara mendalam sesuai dengan konteks keilmuan.
Suara yang dilontarkan pun bukan hasil dari titipan pihak-pihak kepentingan. Karena kalau kita berbuat dengan mengedepankan konsep-konsep keilmiahan, maka segala sesuatunya sanggup dikerjakan dengan konsep sistematis, yaitu bertahap, teratur dan mengarah ke pokok permasalahan.
topangan akademis, mahasiswa pasti akan mampu melaksanakan kerja kemanusian yang di semangati. Sebab dengan kadar landasan ilmu yang kuat, penulis yakin alam kesadaran mahasiswa akan bangkit bahwa mahasiswa tidak cukup membuat dirinya paham sendiri akan ketidakberesan namun juga harus mampu membuat kondisi masyarakat paham dengan keadaan sesungguhnya. Karena ilmu yang dimiliki haruslah diabdikan untuk mewujudkan cita-cita dan ilmu tersebut harus berguna bagi kepentingan rakyat banyak.
Kedua, memiliki keimanan/akhlak. Ini merupakan hal mendasar dalam melakukan setiap perbuatan. Setiap insan manusia yang memiliki landasan keimanan kuat akan mempunyai garansi objektif dalam setiap tindakan yang dilakukan. Segala perjuangan mahasiswa seluruhnya memang diawali oleh semangat keidealismean. Karena seluruh bentuk pengabdian dalam bentuk apapun pada hakekatnya adalah tujuan hidup manusia. Tapi kalau tidak mampu menahan godaan, maka akibatnya adalah terjerumus ke alam hitam permainan politik praktis.
Semangat indepedensi akan hancur berkeping-keping olehnya. Hanya wajah saja yang tampak senyum kebenaran. Tapi perbuatan seluruhnya tidak konsekuen dengan nilai kebenaran itu sendiri. Akibatnya, segala yang dilakukan adalah atas dasar kepentingan pribadi ataupun kepentingan-kepentingan elit. Simbolnya saja bernamakan rakyat yang diperantarai oleh mahasiswa. Sehingga sifat-sifat demikian yang jauh dari tatanan nilai keimanan mesti dibuang sejauh-jauhnya.
Karena mahasiswa dengan kualitas-kualitas yang dimiliki adalah merupakan kelompok elit. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam aliran darah generasi muda. Hanya dengan keimananlah sikap progresif dari seorang intelektual akan tumbuh nilai kejujujuran, keadilan, dan objektifitas dalam bertindak. Semoga hal ini tetap menjadi hal dasar bagi seluruh mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Dan tetap memiliki semangat revolusioner agar mampu selalu eksis dalam mengawal perjalanan demokrasi. Agar demokrasi di negeri ini tidak tersesat ke lembah durjana otoriter.
Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!
*****
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
(Soe hok gie)
Oleh : zikirullah
(aktivis Pergerakan SMUR dan mantan pengurus BEM FKIP.)
Sejarah pergerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial politik suatu bangsa. Seperti halnya Indonesia. Di mana dalam setiap perioderisasinya, mahasiswa dengan moral force-nya telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam menentukan format kehidupan bangsa. Diawali dengan lahirnya Boedi Oetomo 1908 yang dilanjutkan dengan kongres mahasiswa Indonesia sehingga menghasilkan rumusan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 merupakan elemen penting dalam menentukan format bangsa ke depan.
Namun juga tidak dipungkiri dalam perjalanannya, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah cenderung memberikan batasan-batasan ruang lingkup gerakan mahasiswa. Seperti halnya Orde Lama yang jatuh sebagai implikasi jatuhnya rezim otoretarian Soekarno oleh mahasiswa dan ABRI, ternyata justru menjadi awal kemandekan pergerakan mahasiswa Indonesia.
Dengan dikeluarkannya kebijakan NKK/BKK yang melarang mahasiswa berpolitik kecuali sebagai individu dan memasuki organisasi-organisasi politik, secara langsung ataupun tidak telah melumpuhkan/mengkerdilkan peran mahasiswa sebagai elemen pembaharu dalam kehidupan bangsa. Mahasiswa dalam hal ini seakan telah kehilangan orientasi kemahasiswaannya yang notebene sebagai agen pengontrol terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini justru menjadi kekuatan rezim untuk menjalankan politik dan kekuatan kesewenangannya. Sehingga Orde Baru berhasil membentuk paradigma dan pola pikir mahasiswa menjadi “Robot-Robot Penghapal” demi mengejar study oriented dan lulus dengan predikat Cumlaude. Mereka tidak lagi peduli dengan kondisi sosial politik yang ada di sekitarnya melainkan hanya disibukkan dengan urusan kuliah, pesta, dan cinta.
Namun disisi lain ternyata masih terdapat mahasiswa yang masih memiliki kepekaan dan kepedulian sosial kemahasiswaannya terhadap kondisi sosial dan politik yang ada disekitarnya. Dengan semangat keidealisan kemahasiswaannya berusaha untuk mewujudkan kembali peran mereka sebagai agent of change dan agen social control dengan membentuk kelompok-kelompok studi mahasiswa serta bergabung dengan organisasi-organisasi mahasiswa ekstra kampus, yang secara periodik membangkitkan kembali kepekaan sosial kemahasiswaan terhadap perpolitikan bangsa. Runtuhnya rezim Soeharto ternyata bukanlah merupakan akhir perjuangan, tetapi justru merupakan awal perjuangan yang lebih besar. Reformasi menjadi ikon perjuangan seyogyanya harus diawasi dan dikontrol oleh mahasiswa.
Dengan realita demikian, tidak urung pergerakan mahasiswa pasca reformasi 98 cenderung bersifat infirodi. Di Kalimantan Barat juga masih sangat membutuhkan peran mahasiswa untuk mengawal demokrasinya. Merupakan suatu upaya untuk menata kembali format mahasiswa dalam mengawal demokrasi di Kalimantan Barat. Di era otonomi sekarang bagaimana daerah memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam menengarai pembangunan terkadang menyebabkan peran dari pemerintah menjadi kebablasan. Idealnya, demokrasi mampu beriringan memberikan kesejahteraan masyarakat. Dalam tataran normatif memang telah didengungkan. Mulai dari demokrasi liberal, demokrasi terpimpin hingga demokrasi Pancasila sekarang.
Ada dua hal yang mesti dimiliki oleh mahasiswa agar dapat melakoni perjuangan kemanusiaan dalam pengawalan demokrasi. Pertama, adalah memiliki kemampuan teoritis. Artinya adalah mahasiswa harus berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis. Hal ini wajib dimiliki agar mahasiswa mampu memformulasikan apa yang ia ketahui. Sehingga dalam menghadapi persoalan kemasyarakatan penuh dengan kesadaran. Dan segala hal yang dilakukan merupakan hasil kajian secara mendalam sesuai dengan konteks keilmuan.
Suara yang dilontarkan pun bukan hasil dari titipan pihak-pihak kepentingan. Karena kalau kita berbuat dengan mengedepankan konsep-konsep keilmiahan, maka segala sesuatunya sanggup dikerjakan dengan konsep sistematis, yaitu bertahap, teratur dan mengarah ke pokok permasalahan.
topangan akademis, mahasiswa pasti akan mampu melaksanakan kerja kemanusian yang di semangati. Sebab dengan kadar landasan ilmu yang kuat, penulis yakin alam kesadaran mahasiswa akan bangkit bahwa mahasiswa tidak cukup membuat dirinya paham sendiri akan ketidakberesan namun juga harus mampu membuat kondisi masyarakat paham dengan keadaan sesungguhnya. Karena ilmu yang dimiliki haruslah diabdikan untuk mewujudkan cita-cita dan ilmu tersebut harus berguna bagi kepentingan rakyat banyak.
Kedua, memiliki keimanan/akhlak. Ini merupakan hal mendasar dalam melakukan setiap perbuatan. Setiap insan manusia yang memiliki landasan keimanan kuat akan mempunyai garansi objektif dalam setiap tindakan yang dilakukan. Segala perjuangan mahasiswa seluruhnya memang diawali oleh semangat keidealismean. Karena seluruh bentuk pengabdian dalam bentuk apapun pada hakekatnya adalah tujuan hidup manusia. Tapi kalau tidak mampu menahan godaan, maka akibatnya adalah terjerumus ke alam hitam permainan politik praktis.
Semangat indepedensi akan hancur berkeping-keping olehnya. Hanya wajah saja yang tampak senyum kebenaran. Tapi perbuatan seluruhnya tidak konsekuen dengan nilai kebenaran itu sendiri. Akibatnya, segala yang dilakukan adalah atas dasar kepentingan pribadi ataupun kepentingan-kepentingan elit. Simbolnya saja bernamakan rakyat yang diperantarai oleh mahasiswa. Sehingga sifat-sifat demikian yang jauh dari tatanan nilai keimanan mesti dibuang sejauh-jauhnya.
Karena mahasiswa dengan kualitas-kualitas yang dimiliki adalah merupakan kelompok elit. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam aliran darah generasi muda. Hanya dengan keimananlah sikap progresif dari seorang intelektual akan tumbuh nilai kejujujuran, keadilan, dan objektifitas dalam bertindak. Semoga hal ini tetap menjadi hal dasar bagi seluruh mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Dan tetap memiliki semangat revolusioner agar mampu selalu eksis dalam mengawal perjalanan demokrasi. Agar demokrasi di negeri ini tidak tersesat ke lembah durjana otoriter.
Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!
*****
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
(Soe hok gie)
Langganan:
Postingan (Atom)







